Smart Teknik Pekanbaru

Blog

AC untuk ruang isolasi

Keberadaan AC untuk Ruang Isolasi

AC UNTUK RUANG ISOLASI – Ruang isolasi merupakan ruangan yang didesain khusus untuk menangani pasien dengan penyakit infeksi agar terpisah dari pasien lain. Keberadaan AC untuk ruang isolasi ini sangat penting. Bagaimana sebaiknya memilih AC untuk ruang isolasi di rumah sakit? Fungsi Ruang Isolasi Secara umum, fungsi utama ruang isolasi adalah mencegah penularan penyakit ke orang lain. Ruang isolasi terbagi dalam 2 jenis, yaitu ruangan yang menggunakan tekanan udara negatif dan tekanan udara positif. Ruang isolasi yang menggunakan tekanan udara negatif digunakan untuk pasien infeksi yang penularannya bisa terjadi lewat udara. Dengan tekanan negatif ini, udara dari dalam ruang isolasi yang mungkin mengandung kuman penyebab infeksi tidak keluar dan mengontaminasi udara luar. Sebaliknya, ruangan isolasi yang menggunakan tekanan udara positif digunakan untuk pasien yang rentan mengalami infeksi. Tekanan udara positif didapatkan dari udara bersih yang telah disaring dan dibersihkan, kemudian dipompa ke dalam ruangan terus-menerus. Hal ini membuat udara yang masuk ke ruangan isolasi tetap steril. AC untuk ruang isolasi Sistem Tata Udara Rumah Sakit merupakan salah satu faktor penting dalam penyelenggaraan pelayanan medik. Sistem Tata Udara di rumah sakit berfungsi untuk pengaturan temperatur, kelembaban udara relatif, kebersihan udara dan tekanan udara dalam ruang dalam rangka mencegah berkembang biak dan tumbuh suburnya mikroorganisme, terutama di ruangan-ruangan khusus seperti di ruang operasi, ruang OKA, ruang isolasi, dan lain-lain. Sistem tata udara/ AC untuk ruang isolasi– Ruang isolasi harus terpisah dengan bangunan utama.– Kelengkapan alat monitoring: sistem alarm untuk tekanan ruangan agar kondisi tekanan negatif ruangan tetap termonitor. Monitor diletakkan di koridor luar anteroom.– AC temperatur 24⁰ C untuk 1 ruangan perawatan isolasi termasuk airlock adalah 6-8 hp dengan flow rate udara sekitar 850 CFM (1445 CMH) dengan kelembaban relative 60%.– Semua ruangan dibangun harus dapat meminimalkan kebocoran udara (leakage area) dan mendukung tekanan udara sesuai peruntukannya.  

Keberadaan AC untuk Ruang Isolasi Read More »

AC Untuk Ruang OKA

Pengaturan AC Untuk Ruang OKA

Peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES RI) tentang persyaratan bangunan fisik kamar operasi tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X/2004, di mana di dalamnya juga terdapat pengaturan AC Untuk Ruang OKA. Berikut adalah persyaratan untuk ruang operasi : -Indeks angka kuman: 10 CFU/m³, -Indek pencahayaan: 300 – 500 lux, -Standar suhu: 19 – 24 ºC, kelembaban: 45 – 60 %, -Tekanan udara: Positif, -Indeks kebisingan 45 dBA dan -Waktu pemaparan 8 jam. Untuk pemantauan kualitas AC Untuk Ruang OKA harus dilakukan uji kualitas udara (kuman, debu, dan gas). Sebagian besar Rumah Sakit belum sepenuhnya sesuai dengan keputusan tersebut diatas, khususnya yang berhubungan dengan STERILISASI serta tekanan UDARA di dalam ruang operasi. AC Untuk Ruang OKA Dan selama AC Untuk Ruang OKA yang dipakai di dalam ruang tersebut tidak menggunakan system supply dan return air (ada udara yang diambil dari luar dan disaring kemudain masuk kedalam system pendingin untuk didistribusikan di dalam ruangan tersebut, serta adanya pembuangan sebagian udara ke luar ruang operasi melalui system pendingin udara),maka selama itu pula klasifikasi ‘TEKANAN POSISTIF’ tidak pernah akan tercapai. Produk AC Untuk Ruang OKA yang siap pasang di pasaran adalah AC type split duct (system kerjanya seperti AC Sentral) tetapi daya listrik yang dibutuhkan relative kecil dan dapat di design untuk masing-masing ruang/kamar operasi. Material Lantai, Dinding dan Plafon: Lantai: sebaiknya menggunakan vinyl ketebalan 2.5 mm – 3 mm, warna sesuai selera, sebaiknya warna polos (tidak bercorak). Gunakan spesifikasi terbaik untuk fungsi jangka panjang. Dinding : Sebaiknya menggunakan gypsum dengan ketebalan 15mm atau double layer dengan ketebalan masing-masing 10mm (lebih direkomendasikan menggunakan gypsum water resistant), dengan konstruksi yang kuat, jarak antara main support (vertical) tidak lebih dari 400mm (40cm), dan horizontal framenya tidak lebih dari 600mm (60 cm), bila ruangan operasi lebih dari satu dan bersebelahan, pasang isolasi antara kedua dinding dapat menggunakan Styrofoam, atau lembaran spon lembut. Hindari penggunaaan isolasi yang berasal dari bahan yang mengandung partikel micron. Finishing pengecatan cukup dengan menggunakan bahan epoxy painting. Plafon: Menggunakan gypsum dengan ketebalan 12 mm jenis water resistant, rangka galvalum dengan size ukuran 300mm x 300 mm, plus original accessories, dengan ketahanan beban minimal 60 kg. Finishing pengecetan epoxy sudah cukup memadai sesuai standar yang dikehendaki. Tidak dibenarkan ada ‘opening space’ untuk maintenance di dalam ruang operasi, jenis lampu penerangan dan lampu operasi harus dipilih yang berkualitas bagus agar pemasangannya tidak mengalami kendala bila ada lubang-lubang kecil disekitar konstruksi lampu. Kelengkapan lain: Gas Sentral minimal: Oksigen, N2O dan Medical compressed air. Bila tingkat kompleksitas ruangan operasinya tinggi (Micro Surgery) disarankan outlet oksigen lebih dari satu (Harus ada CADANGAN GAS) dan harus menggunakan system pendant termasuk kebutuhan outlet listriknya. Sesuaikan dengan peruntukan ruang operasi.Medical Equipment: Equipment basic yang harus ada : Meja Operasi (Electric/manual),Anastesi mesin,Pasien monitor (sebaiknya 7 parameter; dengan menu IBP),Instrumen trolley,medicine trolley,Waste basket,Kick basket,Foot stool, (laparoscopy recommended),Instrument, dllLay Out: Dilengkapi dengan PASS BOX, preparation room, scrub station, recovery room, access ke ICU, access dipisahkan untuk instrument steril dan non steril, pintu sebaiknya automatic/manual sliding, ada koridor semi steril dan non steril, ada ruang ganti perawat dan dokter yang dipisahkan antara pria dan wanita, ada ruang dokter dan perawat , ruang linen bersih, ruang penyimpanan obat dan lain-lain.

Pengaturan AC Untuk Ruang OKA Read More »

AC untuk ruang operasi

Mengatur AC untuk Ruang Operasi

Ruang Operasi adalah suatu unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai daerah pelayanan kritis. Pengaturan AC untuk ruang operasi diperlukan untuk keberhasilan bedah operasi. Suhu dan kelembaban ruang operasi perlu di-monitoring.  Kenapa? Kontrol AC untuk ruang operasi sangat penting untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan memastikan keamanan pasien dan ruang operasi. Oleh karena itu, suhu dan kelembaban yang konsisten perlu di-monitoring untuk membantu menjaga kenyamanan dan menjaga ruangan sehingga aman dari penularan. Persyaratan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X/2004, dimana persyaratan suhu Ruang Operasi adalah 19 – 24˚ C dan kelembaban yaitu 45 – 60 %.   Standar Operasional AC untuk Ruang Operasi Ruang operasi, juga disebut ruang OKA atau pusat bedah, yaitu unit rumah sakit tempat prosedur bedah dilakukan. AC untuk ruang operasi memiliki lingkungan yang steril dimana semua personil memakai pakaian pelindung yang disebut scrub. Mereka juga memakai penutup sepatu, masker, topi, pelindung mata, dan penutup lainnya untuk mencegah penyebaran kuman. Ruang operasi juga dilengkapi dengan lampu yang menyala terang dan suhunya dijaga agar tetap dingin karena kamar operasi ber-AC guna untuk membantu mencegah infeksi. Sesuai dengan keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X2004, persyaratan ruang operasi adalah sebagai berikut : Indeks angka kuman 10 CFU/mIndeks pencahayaan 300 – 500 luxStandar suhu 19 – 24˚ CKelembaban 45 – 60 %Tekanan udara positifIndeks kebisingan 45 dBA Monitoring suhu dan kelembaban Meskipun sebagian besar pasien pada dasarnya cukup baik untuk dapat beradaptasi dengan kondisi sekitar yang tidak menguntungkan, tidak demikian dengan pasien yang sakit atau orang yang sedang atau telah menjalani operasi serius. Mempertahankan distribusi suhu dan kelembaban yang tepat di ruang operasi dapat meningkatkan pengendalian infeksi dan kenyamanan penghuninya. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X/2004, dimana persyaratan AC untuk Ruang Operasi adalah 19 – 24˚ C dan kelembaban yaitu 45 – 60 %. Dari Keputusan Menteri Kesehatan RI tersebut, ruangan operasi atau isolasi diwajibkan menggunakan pendingin udara/AC. Namun, suhu dan kelembabannya harus memperhitunghkan luas ruangan. Tujuan dari monitoring suhu dan kelembaban yaitu: Meningkatkan keberhasilan operasi Hasil bedah jangka pendek dan jangka panjang lebih cenderung positif ketika pertumbuhan mikroba terhambat dan risiko infeksi bisa diminimalkan. Kamar harus dijaga pada suhu optimal antara 68 dan 73 derajat Fahrenheit. Memberikan Kenyamanan untuk Semua Meningkatkan kenyamanan staf bedah dan pasien sangat penting untuk keberhasilan operasi. Ahli bedah dan staf sering memilih lingkungan yang lebih dingin karena mereka mengenakan pakaian pelindung yang bisa menjadi hangat. Di sisi lain, pasien yang tidak nyaman tidak akan pulih lebih cepat. Selain itu, rumah sakit sering dihantam dengan situasi stres tinggi, sehingga kenyamanan di lingkungan akan membantu mengurangi beberapa tekanan untuk semua orang. Pengontrolan Suhu Pengontrolan AC untuk ruang operasi meliputi pemanasan dan pendinginan sistem untuk menjaga setpoint temperature. Banyak dokter lebih menyukai suhu dingin di ruang operasi dengan alasan karena selama pembedahan mereka harus memakai 3 lapis baju untuk melindungi diri dari darah. Suhu dingin pada ruang operasi lebih baik bagi dokter dan pasien. Operasi pada orang dewasa membutuhkan suhu kamar operasi sekitar 68˚ F sampai 71˚ F (20˚ C – 21˚ C). Namun, suhu kamar operasi dibawah 68˚ F (20˚ C) tidak menimbulkan kerugian maupun ketidaknyamanan pada sebagian pasien. Jadi, tidak masalah jika para ahli bedah lebih menyukai suhu dingin di ruang operasi untuk kenyamanan dalam operasi yang lama atau untuk memberikan manfaat bagi pasien menurut prosedur. Bagi anak-anak, anak-anak sangat rentan terhadap efek suhu sekitar karena mekanisme termoregulasi yang belum matang. Anak-anak lebih mudah kehilangan suhu badan dibandingkan dengan orang dewasa karena anak-anak memiliki wilayah permukaan kulit yang lebih besar dan perlindungan tubuh yang tidak baik terhadap panas. Hal tersebut sangat penting, karena hipotermia dapat mempengaruhi metabolisme obat, anestesi dan koagulasi darah. Hipotermia di ruang operasi dapat dicegah dengan mematikan pendingin, menghangatkan ruangan (buat suhu ruangan > 28˚C ketika melakukan pembedahan pada bayi dan anak) dan menyelimuti bagian terbuka tubuh pasien. Suhu ruang operasi bersalin untuk persalinan dengan jalur operasi caesar memang dibuat dingin. Tujuannya adalah suhu dingin membantu menurunkan dampak infeksi. Ruang bersalin seharusnya memang tidak boleh terlalu dingin atau terlalu panas. Jika terlalu dingin, bayi baru lahir akan kehilangan panas tubuhnya dengan cepat dan terkena hipotermia. Sedangkan jika temperatur ruangan terlalu panas, bayi rentan terkena hipertermia. Tubuh bayi belum dapat mengatur suhu badannya seperti orang dewasa. Bayi prematur lebih berisiko terkena hipotermia maupun hipertermia. Oleh karena itu, WHO merekomendasikan temperatur ruang bersalin yang ideal adalah 25-28 derajat Celcius. Tak hanya untuk mengurangi risiko hipotermia pada bayi baru lahir, namun agar ibu yang melahirkan juga merasa nyaman. Kelembaban Udara Kelembaban dikondisikan untuk meminimalkan pembelahan sel (proliferasi) dan penyebaran spora jamur dan bakteri yang ditularkan melalui air di seluruh udara dalam ruangan. Pengendalian kelembaban meliputi dua teknik yaitu humidifikasi dan dehumidifikasi sistem untuk mempertahankan tingkat kelembaban minimum dan maksimum dalam ruangan. Jika proses operasi membutuhkan kelembaban tingkat yang lebih tinggi (tingkat RH biasanya kurang dari 40%) maka harus menggunakan sistem dehumidifier desiccant. Untuk mengkondisikan kelembaban dibawah 50% akan sangat sulit dengan menggunakan sistem pendinginan standar. Sistem distribusi udara di ruang operasi dapat mengurangi atau meningkatkan frekuensi infeksi pada kamar bedah, tergantung pada desain sistem tata udara (Heating, Ventilation, and Air Conditioning/HVAC) yang diterapkan. Oleh karena itu, dengan menyadari betapa pentingnya monitoring suhu dan kelembaban, maka penting bagi pihak rumah sakit menyediakan alat yang dapat memonitoring suhu dan kelembaban secara terus-menerus. Sesuai keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X2004 bahwa suhu pada ruang operasi tidak boleh lebih dari 240C. Jika lebih dari suhu tersebut maka kulit pasien yang ditutup handuk steril akan cenderung berkeringat sehingga memungkinkan terjadi peningkatan jumlah kuman dalam pori-pori kulit. Kelembaban udara ruangan tidak boleh lebih dari 50%, karena jika lebih, jamur akan mudah tumbuh. Maka dari itu, suhu dan kelembaban di ruang operasi harus selalu dipantau minimal tiga kali sehari, dengan alat pengukur tingkat kelembaban dan suhu ruangan, yang disebut thermohygrometer. Akan lebih efektif lagi apabila thermohygrometer yang ada di dalam ruang operasi dilengkapi dengan adanya penyimpanan data (data logger). Data logging merupakan historical data files untuk setiap kejadian yang terjadi pada sistem, yang berguna untuk keperluan pemeliharaan ataupun review data-data sebelum dan sesudah kejadian. Saat ini periode waktu penyimpanan data-data

Mengatur AC untuk Ruang Operasi Read More »